Kamis, 27 Januari 2011

pagi tadi

Dua hari yang lalu, beliau masih menyapaku dengan anggukannya yang selalu sederhana. anggukan yang selama satu setengah semester ke belakang mengantarkan kepergianku menjelajahi bumi Allah dan menyambut kedatanganku ketika lelah aku pulang ke peraduanku. jarang sekali aku mendengar beliau berucap, hanya anggukan dan tatapan itu yang menjadi cara kami berkomunikasi.
dan, pagi tadi kabar duka itu menghampiri ku. beliau telah kembali ke pangkuan Rabb-nya. aku tak tahu apa yang tengah berkecamuk dalam dada ini. yang pasti, aku akan merindukan sosoknya yang selalu duduk di kursi depan itu, yang selalu mengantar dan menyambutku dengan diamnya.

Selamat jalan, Mbah.
Semoga "tidur"mu tenang di sisi sang Khaliq, amin.

Salima, 5 April 2010
11.20 pm

my wonderful land, indonesia

this is a poem written by Ahmad Saeroji, Okki Irviana, Pujaria Farida, and Ramdhani Bangun, edited by Dra. Sharifah Hanidar, M. Ed
it should be recited at 3rd June in Auditorium FIB.
here it is...

My Wonderful Land, Indonesia

When I strolled with nature,
I saw clusters of trees
planted their heavy feet on Prithvi.
I saw birds of paradise
flying through the exquisite archipelago.

I might tell you!
what an affluent country I have here.
Live on the thrivin' island,
with the green foliage, fresh water,
cool air, plenty of quarries.
they say -a land of heaven.
and you know? it's mine!
My wonderfil land, Indonesia.

look around you, my little fellows,
books and knowledge are everywhere.
kids sing in the kindergarten,
boys and girls enter the elementary school
since they're seven.

junior high, senior high, and the university,
they are accessable for all in this country.
stop thinking about the fee, parents!
'cause the gov gives you the subsidy.

Hmmm,
they are our children,
the great successor of this heaven.
they eat fish and drink milk,
grow strong in tranquility.
they run with their healthy body,
run into the straw of expectancy.

and you see?
they are our parents,
sitting relievely in the arm chair.
no stoke, no diabetes, no heart attack.
they thank us for the health care we gave,
portrait a smile in their old age.

we are proud of being Indonesian.

azka minimarket

AZKA nama minimarket itu. terletak beberapa puluh meter dari gerbang PPPG, minimarket ini menjadi tempat yang sering kukunjungi kala barang persediaan di kamarku dulu habis. setelah hampir dua tahun meninggalkan PPPG, kemarin untuk pertama kalinya, aku melongok kembali ke minimarket itu. banyak sensasi aneh yang tiba-tiba menyergap, mengingatkanku pada dua bulan yang begitu berharga selama matrikulasi dulu.

beberapa sore sering aku menghabiskan waktu di minimarket ini hanya untuk sekedar menunggu maghrib. apa yang kuperlukan sebenarnya tidak banyak, hanya saja, aku senang bolak-balik melihat-lihat isi beberapa rak disana.

di depan minimarket ini, pertama kali aku belajar naik motor. petang itu sepulang dari genesis di jakal bawah, gas kutancap saat gigi masih berada di posisi nol. alhasil, raungan motor itu membuat seisi minimarket melongok keluar. dan seorang perempuan menyarankan pada kawanku untuk memboncengku saja.

di minimarket ini pula, aku mendengar lagu almost here-nya Brian McFadens saat sesuatu hal terjadi dalam fase hidupku. dan sekarang setiap kali aku mendengar lagu itu, sensasi aneh ini kembali menyergap. ada satu kerinduan yang mendera. rindu yang aneh.

ke minimarket ini pula aku dan beberapa kawan mampir untuk membeli minuman sepulang dari kampus ugm dengan berjalan kaki dari pertigaan besi sampai asrama, menjelang maghrib.

pernah juga malam-malam aku mengunjunginya karena harus membeli obat dan beberapa perlengkapan untuk tes toefl.

Ah, masa-masa itu. senang sekali pernah berada di sana.

heteroginitas dalam ukhuwah

Seorang saudaraku pernah berkata, “karena iman itu adalah sesuatu yang tersembunyi, maka ukuran keimanan itu diletakkan pada hubungan kita dengan sesama manusia”. Langsung disambut oleh saudaraku yang lain, “itulah kenapa ukhuwah disebut sebagai saudaranya keimanan. Saat hubungan kita dengan manusia kurang beres, maka mungkin memang iman kita sedang bermasalah”.

Ukhuwah, persaudaraan = kebersamaan.

Mulailah selalu terngiang di benak pikirku, jika kebersamaan itu selalu lebih indah dari pada perpecahan dan perselisihan, kenapa kita tak terus saling menghargai saja agar bibit keretakan itu tak pernah bisa bertunas?

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Al Hujuuraat (49) : 13

Dalam keluarga kecilku, kutemukan berbagai karakter saudara-saudaraku yang selalu membuatku terkagum dan terinspirasi untuk bergerak. Ada si jilbab ungu yang begitu lembut dan sopan tutur katanya. Si jilbab putih yang begitu menggebu menuntut ilmu. Ada si jilbab abu-abu yang selalu bersemangat bahkan dalam saat-saat sulitnya. Ada juga si jilbab coklat yang selalu ceria dan tak bosan mengajakku berrihlah mantafakuri semesta raya. Pun ada juga si jilbab biru yang selalu malu untuk bertanya namun selalu bijak dalam tiap kalimatnya.

Yap, perbedaan warna itulah yang membuat pelangi menjadi indah. Akan selalu ada semangat di saat-saat sulit, dan akan selalu ada nasehat diatas semua kesuksesan yang tercapai. Keberagaman itulah riak yang akan menjadikan arus lebih ceria, selama letupan-letupan itu masih berada dalam koridornya.

Si peci hitam itu selalu bersemangat menyebarkan informasi. Sementara si koko putih selalu mencarikan garis tengah atas perbedaan pendapat. Yang bersarung hijau itu selalu menjadi referensi wisata kuliner dan tempat outbond dengan track yang menyenangkan. Beruntung ada si sorban merah yang selalu siap menjadi penalang dana di saat-saat genting.

Mereka tak sama. mereka datang dengan keunikan dan kelebihan masing-masing. Tak bisa dipungkiri memang ada saat-saat dimana mereka khilaf, tapi itu bukanlah aib yang bisa diumbar menjadi rahasia umum. Perbedaan pendapat dan kepentingan adalah keniscayaan, tapi bukan berarti itu lantas menggilas hak-hak saudara kita yang ada pada diri kita.

Ukhuwah itu adalah penghargaan, maka tabayyun itu akan selalu lebih utama dari pada prasangka. Ukhuwah itu adalah nasehat, maka mengingatkan itu selelu lebih baik dari pada mencemooh. Ukhuwah itu adalah kebersamaan, maka saling membantu itu lebih indah dari pada saling mendiamkan.

Perbedaan-perbedaan yang ada bukanlah benteng ataupun jurang yang harus membuat jarak antara saudara yang satu dengan saudara yang lain. Justru itu adalah sebuah kekayaan yang membuat wawasan lebih luas, hati lebih lapang, dan pikir lebih terbuka. Maka bukan curiga yang ada saat seorang saudara dalam masalah, namun khawatir. Bukan marah yang ada saat terjadi perbedaan pendapat, melainkan penghargaan. Dan bukan lega yang dirasa saat berjauhan, tetapi rindu untuk berkumpul dalam majlis ilmu atau diskusi yang penuh berkah.

Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang senantiasa mengingatkan saat langkah sudah keluar jalur, juga menjadi tempat pengisian kembali semangat saat lelah menggelayuti.


*pada keluarga kecilku, sungguh, kurindu berdiskusi dengan kalian. Ingin sekali kuulang lagi pagi di pantai itu, saat kita beradu lari, bermain pasir, dan mengejar ombak. Makan dari piring yang sama, dengan hidangan yang sama. ah, ternyata memang, pertemuan yang jarang itu membuatku makin mencintai kalian. Rindu pada kalian…

saudaraku yang satu itu

ada sesak yang menyeruak di dada ini. saat kutahu bahwa aku tak mengetahui apa-apa tentang saudaraku yang satu itu. terakhir bertemu, dia mengatakan dia sedang menghadapi sesuatu, tanpa membiarkanku tahu apa sesuatu itu. lalu dia mengantarkan kepergianku malam itu dengan seuntai kalimat, "you don't have to worry, honey. percayalah, ada Allah yang selalu membersamaimu". dan kulihat, sebuah senyuman yang membuatku tergetar terlukis di wajahnya yang terlihat lelah.

aku tak tahu tanggal kelahirannya, aku tak tahu makanan dan warna apa yang dia suka, aku tak tahu apa yang selalu dia lakukan disaat-saat sendirinya. aku tak tahu. yang aku tahu, sekarang dia sedang menghadapi masa-masa sulitnya. sayangnya, pun aku tak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membantu meringankan bebannya.

ukhty,,
tahukah kau sakit sekali hati ini melihatmu seperti itu. pernah kau melakukan sesuatu yang memang kubutuhkan, tanpa seizinku. dan kau malah tersenyum tak merasa bersalah menyemangatiku saat itu. maka sekarang, izinkan aku membalas hutangku itu. izinkan aku mengenyahkan sesak yang beberapa malam ini terus menggelayuti pikir dan perasaanku.

sungguh, aku mencintainya

Tersentak di detik itu.

Saat baru kusadari sepenuhnya keberadaannya, tepat di hadapan pandangku. Dia telah berada di sana sejak beratus hari kemarin, namun bodoh sekali aku selama ini membuatnya terabai. Maka sekarang, izinkan aku untuk mengejawantahkan gemuruh, letupan, dan buncah yang begitu menggetarkan qalbuku ini. Sungguh, tak kuasa aku menyimpannya sendiri.

Diperkenalkan dalam ketidakterdugaan, jarang kami bertegur sapa. Dipersatukan dalam berbagai kesempatan, saling enggan memantik perbincangan.

Hanya anggukan

dan senyum seadanya

saat bertatap muka.

Kesibukanku melalaikan perhatianku akan keberadaannya. Kesehariannya pun tak pernah mengundang perhatianku secara terang-terangan.

Ia berkarya dalam diamnya.

Aku bergerak dalam nafasku.

Satu hari yang kulewatkan bersamanya kemarin, telah berhasil membuka mataku atas kebutaanku terhadapnya selama ini.

Sungguh, Aku mencintainya.

Aku terpikat oleh senyumnya,

Aku terpukau oleh kesantunannya,

dan

Aku terpana oleh keserhanaannya.

Sungguh, Aku mencintainya.

Sabarnya membuatku malu atas ketergesaannku.

Bijaknya mendorongku berkaca untuk mempunyai sikap serupanya.

Perjuangannya menamparku atas kemalasan yang selama ini kupelihara.

Sungguh, Aku mencintainya.

Yogyakarta, 24 Agustus 2010

8.49 am di bangku coklat kampus tercinta.

hujan ini

Deras.
Dingin yg terhembus, mengingatkanku pd sore itu, saat kau berkeras tuk tetap menemani dlm sakitku.

'knp kau bertahan disini?' ujarku sepenuh tanya.
'karena, aku menyayangimu,' jawabmu mantap.
'terima kasih tuk kesabaranmu atas keras kepalaku,' hanya itu yang sanggup ku ucap.

'kau adalah bagian diriku. Apa yg kulakukan skrg, tak sebanding dgn kebahagìaan yg kau beri padaku. Maka, izinkan aku tetap di sampingmu, karena, ku ingin menjadi yg pertama melihat senyummu.'