suatu sore aku duduk bersama seorang teman di satu kelas. sebuah perbincangan terlahir dari sebuah cerita. sampai akhirnya kami sampai pada pembahasan tentang cara ku menghadapi masalah. kalimat yang diucapkannya membuatku bergetar.
"ini adalah perang antara haq dan bathil. betapa banyak orang yang telah tertutup hatinya dari jalan kebenaran.bukan zamannya lagi kita mendengarkan kata-kata orang. mereka tidak punya andil apa-apa dalam menentukan kehidupan kita. yang menjalani hidup kita adalah kita. dan yang mempertanggungkawabkan perbuatan kita adalah kita."
Ini adalah perang dengan ego ku sendiri. Sungguh, ini adalah perjuangan yang tidak mudah, tapi aku pasti bisa melewatinya.
Kamis, 27 Januari 2011
untitled feeling
awalnya tak ada sesuatupun yang istimewa. hanya kebersamaan yang berlandaskan persaudaraan.
awalnya tak ada sesuatupun yang istimewa. hanya pertemuan biasa yang tak membawa banyak perubahan.
awalnya tak ada sesuatupun yang istimewa. tak ada sesuatu yang istimewa.
tapi semenjak satu saat dimana keberadaannya mulai menjadi tak biasa, keistimewaan itu muncul. ini bukan lagi sekadar kebersamaan, ini bukan lagi sekedar pertemuan. ada ikatan lain yang membuat kebersamaan ini terlampau indah. ada semangat lain yang membuat pertemuan ini sangat berharga.
kondisi ini yang selalu membuatku harus bertarung keras dengan egoku.
apa yang telah kau berikan terlalu indah untuk dilupakan.
apa yang telah kau lakukan telah membuat semuanya berubah.
dan ini membuatku bingung, bagaimana aku harus menyikapimu???
awalnya tak ada sesuatupun yang istimewa. hanya pertemuan biasa yang tak membawa banyak perubahan.
awalnya tak ada sesuatupun yang istimewa. tak ada sesuatu yang istimewa.
tapi semenjak satu saat dimana keberadaannya mulai menjadi tak biasa, keistimewaan itu muncul. ini bukan lagi sekadar kebersamaan, ini bukan lagi sekedar pertemuan. ada ikatan lain yang membuat kebersamaan ini terlampau indah. ada semangat lain yang membuat pertemuan ini sangat berharga.
kondisi ini yang selalu membuatku harus bertarung keras dengan egoku.
apa yang telah kau berikan terlalu indah untuk dilupakan.
apa yang telah kau lakukan telah membuat semuanya berubah.
dan ini membuatku bingung, bagaimana aku harus menyikapimu???
terima kasih, bunda
adalah saat-saat yang sulit ketika aku menemukanmu di sana. saat-saat dimana aku serius berkutat dengan egoku dan tidak ada siapapun yang bersedia duduk di sampingku.
kau datang dengan senyummu. sejenak menggenggamkan semangat untukku. bagaimana aku bisa menggambarkan apa yang telah kau berikan untukku? sungguh, semua itu adalah sesuatu yang tidak dapat kubalas seumur hidupku.
kau tersenyum saat melihatku murung. duduk disampingku saat tak ada seorangpun menemaniku. kau genggam tanganku saat aku kehilangan semangatku. kau memberiku obat terbaik bagi seorang wanita dalam kondisi terlukanya, sebuah pelukan hangat.
aku tahu betapa sangat kau mengkhawatirkan keadaanku. aku tahu betapa kau ingin selalu membantuku menghadapi situasiku. aku tahu betapa kau ingin aku menjadi sosok yang tegar dan kokoh. dan betapa aku tak sanggup mengatakan bahwa aku mengetahui semua itu.
Apa yang mampu kulakukan untuk membalas semua itu?
aku hanya sanggup untuk selalu menyebutmu dalam setiap doaku.
aku hanya sanggup untuk berusaha mengingat semua nasehatmu.
aku hanya sanggup untuk berusaha mematuhi semua saranmu.
apakah engkau tahu, alangkah indahnya ketika aku melihat senyummu. senyum yang menenangkan dan memberiku semangat baru.
terima kasih, bunda
terima kasih, bunda
I love you because Allah, ever and ever
semoga aku bisa tetap tegak di jalan ini bersamamu
kau datang dengan senyummu. sejenak menggenggamkan semangat untukku. bagaimana aku bisa menggambarkan apa yang telah kau berikan untukku? sungguh, semua itu adalah sesuatu yang tidak dapat kubalas seumur hidupku.
kau tersenyum saat melihatku murung. duduk disampingku saat tak ada seorangpun menemaniku. kau genggam tanganku saat aku kehilangan semangatku. kau memberiku obat terbaik bagi seorang wanita dalam kondisi terlukanya, sebuah pelukan hangat.
aku tahu betapa sangat kau mengkhawatirkan keadaanku. aku tahu betapa kau ingin selalu membantuku menghadapi situasiku. aku tahu betapa kau ingin aku menjadi sosok yang tegar dan kokoh. dan betapa aku tak sanggup mengatakan bahwa aku mengetahui semua itu.
Apa yang mampu kulakukan untuk membalas semua itu?
aku hanya sanggup untuk selalu menyebutmu dalam setiap doaku.
aku hanya sanggup untuk berusaha mengingat semua nasehatmu.
aku hanya sanggup untuk berusaha mematuhi semua saranmu.
apakah engkau tahu, alangkah indahnya ketika aku melihat senyummu. senyum yang menenangkan dan memberiku semangat baru.
terima kasih, bunda
terima kasih, bunda
I love you because Allah, ever and ever
semoga aku bisa tetap tegak di jalan ini bersamamu
perbincangan kecil
tiap orang punya kecenderungan untuk MEMILIH orang yang bisa membuatnya nyaman. terlepas dari bisa atau tidaknya dia menerima apa yang ia dapatkan. waktulah yang kan menguji kesabarannya..
NI BERLAKU BAGI SESEORANG ATAU DUA ORANG YANG MEMILIKI KECENDERUNGAN YANG SAMA???
maybe tu cuma berlaku bagi orang yang sedang dalam pencarian dan dia butuh orang yang mau menegurnya ketika ia khilaf..
SEBUAH PROSES PUN ADA TARGETANNYA. MAU DIINGATKAN SAMPAI KAPAN??? BUKANKAH KESADARAN YANG DIMULAI DARI DIRI SENDIRI ITU LEBIH KUAT KARENA JIKA BERGANTUNG PADA ORANG LAIN DAPAT DIPASTIKAN IA AKAN KECEWA..
semua memang kembali pada diri sendiri. tapi adakalanya orang akan sampai pada titik jenuh,,saat itulah ia butuh lengan yang kan menggenggamkan sebuah semangat,,,
TAPI BISA LENGAN SIAPA AJA KHAN???
seperti yang sudah kusampaikan, orang akan mencari yang mampu membuatnya nyaman. dan itu tidak segampang mencari sekadar "gandengan" ada sesuatu yang besar yang kadang tak mampu diucapkan,,,
SEBENARNYA SECARA TIDAK SADAR KITA ITU SUDAH MENCOBA 'MENGUASAI' SESEORANG ITU DENGAN HANYA MAU COCOK TANPA ADA TAWARAN YANG LAEN. PADAHAL BISA JADI YANG LAEN ITU JAUH LEBIH COCOK DAN NYAMAN DENGAN PERBEDAAN YANG DIMILIKI.
mungkin tuh salah satu kekuranganku sebagai insan yang tak pernah luput dari khilaf dan jauh dari sempurna. sadar atau tidak, telah ada dan selalu ingin mencari pelajaran dari seseorang itu...
TAPI TETAP BISA DIUBAH JADI KELEBIHAN, ASALKAN DARI DIRI KITA SENDIRI MENGINGINKANNYA. KEKURANGAN-KELEBIHAN AKAN SELALU ADA PADA TIAP MANUSIA TAPI BAGAIMANA KITA BISA MENJADIKAN YANG KURANG ITU MENJADI SESUATU...
NI BERLAKU BAGI SESEORANG ATAU DUA ORANG YANG MEMILIKI KECENDERUNGAN YANG SAMA???
maybe tu cuma berlaku bagi orang yang sedang dalam pencarian dan dia butuh orang yang mau menegurnya ketika ia khilaf..
SEBUAH PROSES PUN ADA TARGETANNYA. MAU DIINGATKAN SAMPAI KAPAN??? BUKANKAH KESADARAN YANG DIMULAI DARI DIRI SENDIRI ITU LEBIH KUAT KARENA JIKA BERGANTUNG PADA ORANG LAIN DAPAT DIPASTIKAN IA AKAN KECEWA..
semua memang kembali pada diri sendiri. tapi adakalanya orang akan sampai pada titik jenuh,,saat itulah ia butuh lengan yang kan menggenggamkan sebuah semangat,,,
TAPI BISA LENGAN SIAPA AJA KHAN???
seperti yang sudah kusampaikan, orang akan mencari yang mampu membuatnya nyaman. dan itu tidak segampang mencari sekadar "gandengan" ada sesuatu yang besar yang kadang tak mampu diucapkan,,,
SEBENARNYA SECARA TIDAK SADAR KITA ITU SUDAH MENCOBA 'MENGUASAI' SESEORANG ITU DENGAN HANYA MAU COCOK TANPA ADA TAWARAN YANG LAEN. PADAHAL BISA JADI YANG LAEN ITU JAUH LEBIH COCOK DAN NYAMAN DENGAN PERBEDAAN YANG DIMILIKI.
mungkin tuh salah satu kekuranganku sebagai insan yang tak pernah luput dari khilaf dan jauh dari sempurna. sadar atau tidak, telah ada dan selalu ingin mencari pelajaran dari seseorang itu...
TAPI TETAP BISA DIUBAH JADI KELEBIHAN, ASALKAN DARI DIRI KITA SENDIRI MENGINGINKANNYA. KEKURANGAN-KELEBIHAN AKAN SELALU ADA PADA TIAP MANUSIA TAPI BAGAIMANA KITA BISA MENJADIKAN YANG KURANG ITU MENJADI SESUATU...
sedikit goresan
Ukuwah adalah satu pengikat sesama muslim.
Silaturrahim adalah sarana untuk menjaga ukhuwah.
Dan,
Ego serta nafsu adalah pisau yang kan menyayat ikatan itu.
Mudah sekali mengikatkan diri dengan orang lain untuk menjalin pertemanan,
Semudah daun tua kering jatuh dari pohonnya.
Namun MENEMUKAN seorang TEMAN,
Ibarat mencari jarum di atas tumpukan jerami.
Orang bisa merasa nyaman
ketika dia mengingat dan berada dalam ingatan TEMANnya.
Adapun ketidakberdayaan dalam menghadapi keadaan,
Itu sudah termasuk daerah kekuasaan-Nya.
Kita hanya bisa berusaha yang terbaik.
Masalah ego dan nafsu, itu amatlah manusiawi.
Tidaklah adil –menurutku- meminta seseorang
melakukan yang bertentangan dengan hatinya.
Tapi,
Memang mungkin orang ini tak pernah tahu diri.
Dia selalu bermimpi mendekap bintang,
Padahal dia hanya seorang hina.
Siapa dia???
Dia bukan siapa-siapa.
Tak ada secuil pun arti keberadaannya dalam cerita kehidupanmu.
Cobalah kau teriakkan lantang di pendengarannya:
KAMU BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Agar ia sadar, dan berhenti bermimpi mendekap bintang.
Biarkan ia sendiri.
Peduli apa tentang penderitaannya.
Sekali lagi dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Peduli apa tentang mimpinya.
Dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Peduli apa tentang sakitnya.
Dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Peduli apa tentang harapannya.
Dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Silaturrahim adalah sarana untuk menjaga ukhuwah.
Dan,
Ego serta nafsu adalah pisau yang kan menyayat ikatan itu.
Mudah sekali mengikatkan diri dengan orang lain untuk menjalin pertemanan,
Semudah daun tua kering jatuh dari pohonnya.
Namun MENEMUKAN seorang TEMAN,
Ibarat mencari jarum di atas tumpukan jerami.
Orang bisa merasa nyaman
ketika dia mengingat dan berada dalam ingatan TEMANnya.
Adapun ketidakberdayaan dalam menghadapi keadaan,
Itu sudah termasuk daerah kekuasaan-Nya.
Kita hanya bisa berusaha yang terbaik.
Masalah ego dan nafsu, itu amatlah manusiawi.
Tidaklah adil –menurutku- meminta seseorang
melakukan yang bertentangan dengan hatinya.
Tapi,
Memang mungkin orang ini tak pernah tahu diri.
Dia selalu bermimpi mendekap bintang,
Padahal dia hanya seorang hina.
Siapa dia???
Dia bukan siapa-siapa.
Tak ada secuil pun arti keberadaannya dalam cerita kehidupanmu.
Cobalah kau teriakkan lantang di pendengarannya:
KAMU BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Agar ia sadar, dan berhenti bermimpi mendekap bintang.
Biarkan ia sendiri.
Peduli apa tentang penderitaannya.
Sekali lagi dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Peduli apa tentang mimpinya.
Dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Peduli apa tentang sakitnya.
Dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
Peduli apa tentang harapannya.
Dia BUKAN SIAPA-SIAPA!!!
hhmmm...
bisikan angin jelas terdengar membelai lembut jutaan deaunan, membawa kabar tentang peringatan yang telah lama ku abaikan. Tenang kurasa di sini, hening dan damai. Apa kau tahu? Andai ku bisa kembali pada fitrah, ku ingin kembali menjadi selembar kertas tanpa noda dan kutuliskan kisah sebuah perjuangan menuju keikhlasan serta satu damba akan cinta-Nya. Ajari aku cara menghargai, bimbing aku dalam jalan-Nya, dan berikan aku maaf atas setiap khilaf yang telah kuperbuat. Tuntun aku dalam menetapkan tujuan, tegur aku bila ku menyimpang dari sana.
Peduli apa tentang yang mereka bilang? Satu keyakinanku, kekuasaan-Nya. Bukankah itu yang kau bisikkan di pendengaranku? Ingin ku membuat senyum selalu terukir di wajah saudara saudariku. Ingin ku mampu menunaikan kewajibanku dan hak mereka. Tolong selalu bawa ku dalam doamu agar aku bisa menjadi sepertimu.
Peduli apa tentang yang mereka bilang? Satu keyakinanku, kekuasaan-Nya. Bukankah itu yang kau bisikkan di pendengaranku? Ingin ku membuat senyum selalu terukir di wajah saudara saudariku. Ingin ku mampu menunaikan kewajibanku dan hak mereka. Tolong selalu bawa ku dalam doamu agar aku bisa menjadi sepertimu.
sangsi di denja jingga
sebuah catatan di sore hari yang ternyata belum lepas dari hinggap kealpaan.
ada getar tak terelaborasi dalam kesendirian ini. ada senyum yang tiba-tiba terlukis dalam memori ini. ada kesal yang sedikit menyergap dalam perenungan ini. ada rindu yang tiba-tiba menyeruak dalam pemikiran ini. ada ragu yang tiba-tiba tersembul dalam pertanyaan ini. dan ada juga kebahagiaan yang tiba-tiba terdesir dalam pelajaran ini.
semakin jauh kumelangkah, semakin tersesat aku di jalan ini. pertarungan yang sangat indah ketika aku mampu menentukan porsi yang tepat untuk tiap inci tubuhku mengambil andil dam pergulatan ini. mata, telinga,, hati, tangan, ah... semuanya mempunyai hak untuk ikut merasakan manisnya kegetiran ini. selalu saja terlontar pertanyaan bodoh ditengah prosesnya yang sebenarnya sudah kuketahui jawabannya. bukan apa-apa, pikir ini hanya penasaran, dan ini "sekedar" ingin tau.
beberapa jenak ku merasa lelah dan jenuh dengan ini. tapi inilah perang itu. seorang teman pernah berkata, "Keluarga itu teman yang diberikan oleh Allah. mau tidak mau, sejauh apapun kita dengan mereka (baik itu dimensi jarak ataupun emosi), pasti kita dan mereka tidak akan bisa dilepas kaitkan".
memang indah ada uluran tolong dalam kerapuhanku, tapi ternyata rencana Allah lebih indah dituruti dengan senyum maaf penuh kesabaran. Lalu rasa sakit yang telah menyayat dan menyisakan luka yang masih berbekas? sebelah sayapku bilang, "Allah Maha Pemaaf meski seisi alam pernah membuat-Nya murka".
memang indah terlihat strategi perang yang mereka tawarkan. tapi adakah itu cocok digunakan dalam semua situasi? aku hanya mempunyai Satu Sekutu dan aku ingin mulai belajar menyerahkan kepercayaanku sepenuhnya pada-Nya.
masih ada rasa sakit yang sering menyapa ketika kuterjebak dalam pertarungan ini. tapi itulah tantangan untuk kutaklukan.
lagipula, lebih indah memandang ini secara obyektif. terlalu mengiris memaksa memandangnya dari kacamata subyektif.
ah... pertarungan ini terlalu kucintai.
ada getar tak terelaborasi dalam kesendirian ini. ada senyum yang tiba-tiba terlukis dalam memori ini. ada kesal yang sedikit menyergap dalam perenungan ini. ada rindu yang tiba-tiba menyeruak dalam pemikiran ini. ada ragu yang tiba-tiba tersembul dalam pertanyaan ini. dan ada juga kebahagiaan yang tiba-tiba terdesir dalam pelajaran ini.
semakin jauh kumelangkah, semakin tersesat aku di jalan ini. pertarungan yang sangat indah ketika aku mampu menentukan porsi yang tepat untuk tiap inci tubuhku mengambil andil dam pergulatan ini. mata, telinga,, hati, tangan, ah... semuanya mempunyai hak untuk ikut merasakan manisnya kegetiran ini. selalu saja terlontar pertanyaan bodoh ditengah prosesnya yang sebenarnya sudah kuketahui jawabannya. bukan apa-apa, pikir ini hanya penasaran, dan ini "sekedar" ingin tau.
beberapa jenak ku merasa lelah dan jenuh dengan ini. tapi inilah perang itu. seorang teman pernah berkata, "Keluarga itu teman yang diberikan oleh Allah. mau tidak mau, sejauh apapun kita dengan mereka (baik itu dimensi jarak ataupun emosi), pasti kita dan mereka tidak akan bisa dilepas kaitkan".
memang indah ada uluran tolong dalam kerapuhanku, tapi ternyata rencana Allah lebih indah dituruti dengan senyum maaf penuh kesabaran. Lalu rasa sakit yang telah menyayat dan menyisakan luka yang masih berbekas? sebelah sayapku bilang, "Allah Maha Pemaaf meski seisi alam pernah membuat-Nya murka".
memang indah terlihat strategi perang yang mereka tawarkan. tapi adakah itu cocok digunakan dalam semua situasi? aku hanya mempunyai Satu Sekutu dan aku ingin mulai belajar menyerahkan kepercayaanku sepenuhnya pada-Nya.
masih ada rasa sakit yang sering menyapa ketika kuterjebak dalam pertarungan ini. tapi itulah tantangan untuk kutaklukan.
lagipula, lebih indah memandang ini secara obyektif. terlalu mengiris memaksa memandangnya dari kacamata subyektif.
ah... pertarungan ini terlalu kucintai.
Langganan:
Postingan (Atom)