Kamis, 27 Januari 2011

berdamai dengan hati

beberapa hari, setelah kejadian itu.

kau semakin sering kutemukan,

sengaja ataupun kebetulan.

tidak tidak, tidak ada yang kebetulan.

kau semakin sering kutemukan,

saat aku sengaja mencarimu atau saat aku tidak ingin bersua denganmu.

tidak tahu ada rencana apa di balik ini.

hanya meyakini dalam hati,

tak ada satu detik pun yang kulewati,

luput dari garis yang yang telah Dia tetapkan.

silakan tetap di situ sayang,

aku sedang berusaha berdamai dengan hatiku,

dengan rasaku,

terhadapmu.

untitled

dini hari tadi saat aku tersadar dari tidurku, kudapati pesan itu masuk di inbox ponselku. singkat saja, "Ukh, aku hanya sedang capek. salahkah?" pukul 11.08 ternyata pesan itu dikirim.

sejenak ku terdiam, mencerna maksud pertanyaanmu.

Aku pikir salah tidaknya rasa lelahmu itu, tergantung dari seberapa lama masa istirahatmu, ukh.

kau merasa begitu sekarang, pun juga aku. aku tak tahu siapa yang lebih lelah diantara kita. hanya saja, yang kutahu, kita masih harus menjadi lentera untuk kegelapan di sekitar kita. maka tak bisa kita terus meredupkan nyala kita.

begitulah, ukhty.

ruang itu, hanya untukmu

Bismillah.

Di satu siang saat aku tengah bergelut dengan persoalan yang cukup menyita tenaga dan pikiranku, sebuah pesan masuk ke inbox ponselku. pesan darimu.

just be strong, honey. i'm sure you can pass it. i'm not there beside you, but you've already knew that i always close to you.

ada sesuatu yang tiba-tiba menyeruak di ruang dadaku, rinduku padamu. saudaraku yang telah lama tak kujumpai karena kau sedang berjuang melawan sakitmu. ada sesak yang membuatku ingin menangis. bahkan di saat payahmu berjuang melawan keterbatasan, kau masih mengingatku.

sedekat apa aku dan dirimu, sayang?

kukirimkan balasan itu dengan mata gerimis. tak lama kau pun menjawab.

Sedekat gula dengan manisnya, dan sedekat matahari dengan hangatnya.

adakah kau menyertakanku dalam doa salat malammu, ukhti sayang?

sebagaimana di penghujung tahiyatku, kupanjatkan doa untukmu?

gerimis di kedua beningku terbadai menjadi banjir.

insyaallah, ukh.

semoga Allah memberkahi kesabaranmu.

dan semoga Dia juga memberkahi perjuanganmu.

semenjak siang itu, tak lagi aku menerima kabar darimu. Sampai pagi tadi, aku terbangun karena mimpi tentangmu.

semoga kelak, kita bertemu di menara cahaya itu, ukh. ucapmu dalam mimpiku.

Dan siang ini, aku baru tahu bahwa kau telah kembali.

yogyakarta, 26 september 2010.

untukmu saudaraku, setiap pelajaran yang kau berikan, telah menjadi kenangan yang tersimpan di satu sudut hatiku. ruang itu, hanya untukmu.

yang tersisa dari malam itu

Terbangun aku di pagi buta ini. Kulihat jam di dinding, pukul satu empat lima. Sejenak kukumpulkan sadarku, baru aku ingat semalam badanku teramat lemah, bahkan hanya sekadar untuk melangkah. Hujan juga tengah membadai di luar sana. Aku ingat betul memintamu membangunkanku lima belas menit setelah aku mencoba berbaring, agar aku bisa pulang. Tapi lima belas menit itu menjadi satu jam. Itupun aku terbangun sendiri.

Kulihat kau di depanku masih menghadapi buku-bukumu. Saat aku memanggilmu, kau menoleh. Kuajukan protesku, kenapa kau tak membangunkanku? Katamu, sudah tidak apa-apa, istirahat di sini saja. Aku pula tak kuasa memaksakan diri untuk beranjak, terutama untuk mendebatmu, kubaringkan lagi badanku.

Sekarang kulihat kau di sampingku, tertidur dengan sebuah bantal menutupi matamu. Laptop putihmu masih menyala, di sana, di ujung kakimu. Ah, kau membuatku cemburu dengan kesungguhanmu menuntut ilmu.

Kugeser sedikit badanku, rupanya itu membangunkanmu. Ah, betapa peka pendengaranmu, wahai gadis yang suka berbagi. tiga detik kita saling beradu tatap. Tahu bahwa aku baik-baik saja, kau pejamkan kembali kedua matamu. Tahukah engkau? Betapa nyaman perasaanku saat mendapatimu begini dekat denganku. Aku merasa terlindungi. Aku pun kembali terlelap, melanjutkan malam yang terasa begitu aneh.

Terbangun kemudian, sudah pukul empat tiga puluh. Lagi, kulihat kau sedang menghadapi buku-buku dan laptop putihmu. Ah, cemburu itu kembali menyeruak, sayangku. Kulihat sedajah merahmu terhampar dengan mukena di atasnya, kau pasti sudah shalat subuh.

Kubilang aku ingin segera pulang, kau berseru, shalat dulu. Aku pun beranjak mengambil air wudhu, sementara kau melanjutkan kesibukanmu dengan dunia ilmu. Kutuntaskan shalatku dan bersiap meninggalkan kamarmu. Hati-hati ya, ucapmu sambil menjabat tanganku erat. Aku hanya mengangguk. Kutinggalkan kamarmu setelah mendengar kau menjawab salamku.

Ah, betapa beratnya perbincangan kita semalam, sayang. Kita sama-sama tahu itu. Kau berkeras bahwa aku baik-baik saja, bahwa aku kuat menghadapi masalahku. Bahwa aku tak perlu bersandar pada siapapun selain Allah, termasuk dirimu. Kau tak ingin aku menjadi lemah oleh pikiranku sendiri. Pun, kau tetap tersenyum di sana, meyakinkanku bahwa aku bisa menemukanmu saat aku membutuhkan bantuanmu.

Terima kasih, untuk semua yang telah kau lakukan buatku. Maka, izinkan aku mencintaimu, semampuku.

Semua muslim adalah bersaudara. Semuanya, tidak terkecuali. Karunia dan kasih sayang Allah begitu besar. Pasti ada hikmah atas apapun yang menimpa kita. Dan Allah tiada kehilangan cara untuk mendewasakan kita. Perkuat imanmu karena berjumpa dan berpisah itu adalah satu keniscayaan. Jadikan itu semua sebagai kekuatan baru bagi dirimu. Percaya pada Allah dan tawakallah pada-Nya. Karena Allah maha tahu, kapan kita kan dapati hasil perbuatan kita. Bisa jadi, kelak di surga.

Begitulah pesan yang disampaikan seseorang padaku, ukhti, ketika aku terpisah darimu, seorang saudara yang sangat kucintai. Kelompok halaqah kita diatur ulang keanggotaannya, padahal sudah lebih dari dua tahun aku bersama-sama denganmu. Aku sudah sangat nyaman dengan perbedaan kita yang ternyata membentuk satu pelangi yang sangat semarak goresannya. Saat pertama kali mengetahui perpisahan itu aku marah dan terbersit sekerat benci di hatiku, entah pada siapa. Entahkah itu pada orang yang membuat kita terpisah, entahkah itu pada dirimu, atau mungkin malah pada diriku sendiri.

Aku tak tahu kenapa, ukhti, tiba-tiba saja aku merasa bahwa dirimu bersikap berbeda setelah perpisahan itu. Aku tak lagi merasakan hangatnya kebersamaan seperti saat kita masih dalam satu kelompok halaqah. Karena bagiku kesendirian itu lebih menyeramkan daripada tertabrak mobil, maka kebersamaanku denganmu adalah sesuatu yang selalu kurindukan. Saat itu aku bertanya penuh kesal, apakah keindahan ukhuwah itu hanya ada di negeri dongeng?!

Kuakui ada yang tak beres dalam diriku dikarenakan perpisahan yang belum bisa kuterima itu. Ada yang kacau dalam pikiran, perasaan, bahkan imanku. Beberapa jenak aku hanya menunaikan kewajibanku hanya sebagai penggugur semata. Tak kurasakan nikmatnya sujud dan tilawahku. Aku benar-benar kehilangan sehatnya pikirku.

Satu hari aku berkunjung ke pameran buku untuk mencari sebuah buku yang sudah lama kutunggu terbitnya. Sebuah buku yang judulnya sungguh sangat menyentuh hatiku, hati yang rindu akan kehangatan sebuah persaudaraan. Buku yang penulisnya banyak menyinggung potongan kisah Rasulullah dan para sahabat, Salim A. Fillah. Buku itu, Dalam Dekapan Ukhuwah.

Begitu buku itu tersedia untuk dibeli, aku langsung membeli dua buku. Satu untuk kumasukkan dalam daftar koleksiku, satu lagi untuk kuberikan padamu, ukhti, saudaraku yang sungguh kucintai. Entah kenapa aku ingin sekali memberikan buku itu sebagai hadiah untukmu, sayang.

Kubungkus buku itu dengan sepenuh perhatianku. Kulipat kertas pembungkusnya sedemikian rupa dan kutulis sebait kata untuk kuselipkan dalam buku itu. Sebait rinduku padamu. Sebait harapku agar aku bisa kembali semula, menjadi seorang muslimah yang mandiri dan berpijak di landasan yang kuat, syari’at islam, bukan hanya kenyamanan perasaanku semata.

Tak kutuliskan namaku dalam bungkusan maupun surat itu. Aku tak tahu alasannya, aku hanya menurutkan apa yang dibisikkan hatiku. Kutitipkan bingkisan itu pada teman kita yang tinggal satu atap denganmu di pondok pesantren itu. Ada satu kelegaan di hatiku, setelah yakin bahwa kau telah menerima hadiahku. Hadiah kecil perwujudan rindu dan sayangku padamu.

Sampai beberapa hari setelah bingkisan itu sampai di tanganmu, aku mengirimu pesan, menanyakan tentang sesuatu hal. Kau menjawabku, dan di akhir pesanmu kau tuliskan, “Jazakillah khair untuk bukunya ukhti sayang. Suka banget…” Penuh penasaran aku bertanya, “Tahu dari mana, ukhti?” Sebab tak ada tulisan atau apapun yang menunjukkan bahwa akulah yang mengirim hadiah itu. Teman yang kutitipi itupun sudah kupesankan agar tidak memberitahumu bahwa buku itu dariku. Sejenak aku menunggu, pesan balasanmu masuk jua ke ponselku. “Feeling, ukhti,” dengan sebuah simbol senyum di penghujungnya.

Aku mersa biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Hari-hari berikutnya kusibukkan diriku dengan membaca buku bercover hitam itu. Tidak hanya sekali, ukhti, tapi sampai tiga kali, bahkan sekarang aku tengah membaca untuk yang keempat kali. Bukan karena aku belum bisa menangkap apa yang dipaparkan buku itu, sungguh bukan. Aku membacanya berulang karena sungguh isi buku itu menyentuh sudut terdalam hatiku. Sisi yang telah kering selama beberapa jenak tanpa guyuran taujih keimanan.

Potongan-potongan kisah itu, ukhtiku sayang, sungguh membekas dalam pikir dan hatiku. Kisah tentang kemuliaan Rasulullah, keutamaan Abu Bakar, keberanian Umar, kelembutan Utsman, dan kecerian Ali. Tak ketinggalan pula lika-liku persaudaraan Muhajirin dan Anshar. Sungguh, aku merasa malu. Kupikir berat sekali perpisahan yang kudapati denganmu, padahal apalah arti perpisahan itu dibanding dengan penderitaan orang-orang mulia jauh sebelum kita?

Betul sekali, ukhti, apa yang dulu seseorang bilang padaku, bahwa berjumpa dan berpisah adalah suatu keniscayaan. Bahwa itu adalah salah satu cara Allah mendewasakanku. Bahwa berbaik sangka atas rencana yang telah Allah gariskan adalah cerminan hasilnya. Sekarang aku baru paham isi pesan yang dulu disampaikan buatku itu.

Ada bagian-bagian dari buku itu yang menusukku tepat di ulu hatiku, ukhti sayang. Goresan kata yang menyentuh rasa malu sekaligus rasa sakitku atas keluhan yang selama ini terlontar dari bibirku. Kata-kata yang membuatku bergetar, jantungku berdetak tidak teratur saat aku membacanya.

ya, kubaca lagi firmannya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”

aku makin tahu, persaudaraan tak perlu dirisaukan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh

saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan

saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai

aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita

hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil

mungkin dua-duanya, mungkin kau saja

tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

Tepat seperti apa yang kurasakan saat perpisahan kita kemarin, ukhti. Maka aku mulai mengevaluasi apa yang sebenarnya menyebabkan dulu aku sempat mempunyai rasa benci tak beralasan itu. Dan kini aku tahu, bahwa yang tidak beres itu ternyata ada dalam diriku, dalam imanku, bukan dalam ukhuwah kita.

Maka setelah membacanya aku menangis, teringat pesanmu “Feeling, ukhti.” Aku baru merasakan getar itu sekarang. Getar keindahan berbagi dengan saudara. Maka pada hari itu, sembilan hari selepas peringatan hari lahirmu, aku tergerak untuk memberimu sebuah hadiah lagi. Hadiah untuk peringatan hari lahirmu.

Sejak pagi aku menyibukkan diri dengan membuat coklat khusus buatmu. Satu lempeng coklat dengan gambar muslimah berjilbab yang sedang tersenyum. Aku teringat kau pernah berkata, “Kadang aku capek, ukh, dengan amanah-amanah yang sekarang kujalani.” Maka di atas coklat itu kutulisi, “Tetap semangat Aisy-ku. Allah selalu bersamamu.”

Kubungkus coklat itu dengan bungkus yang desain dan pembuatannya kupersiapkan sepenuh seriusku. Kuikat bingkisan itu dengan pita biru, warna kesukaanmu. Menjelang Ashar, bingkisan itu sudah siap untuk kuberikan padamu.

Tapi selepas Ashar, hujan deras mengguyur bumi, ukhti. Sempat kuberpikir, biar besok saja kuberikan bingkisan itu selepas kuliahmu di kampusmu. Tapi siapa aku berani menjamin bahwa besok aku masih hidup? Maka kubulatkan tekad dan keberanianku. Kukayuh sepeda tuaku di bawah titisan air yang tercurah dari langit itu untuk menuju pondok pesantren tempatmu menuntut ilmu.

Kau memarahiku saat aku tiba di pondokmu dengan rok yang basah kuyup. Kau berkeras memaksaku mengganti pakaianku, tapi aku berhasil menunjukkan bahwa bajuku tidak basah. Kita akhirnya berbincang tentang banyak hal di sore yang membadai itu.

Kuberikan surat yang menjelaskan apa yang tengah kurasakan tentang ukhuwah kita. Kau menangis tersedu. Aku bertanya, rasa apa yang tengah kau rasakan sampai kau tersedu seperti itu? Kau bilang, “Tidak perlulah sebuah nama untuk rasa ini, cukup kita rasakan saja, ukhti, rasakan saja,” ujarmu sambil mencoba tersenyum.

Maka sore itu kubuktikan sendiri bahwa keindahan ukhuwah itu sungguh ada, bukan hanya di negeri dongeng.

gerimis di jingga hati

Lagi, gerimis.

Jingga tergores di hati yang merindu. Ada asa yang terpanjat dalam hentak nafas terkejar batas.

Gerimis,
Jingga,
Rindu.

Dan hanya Kau yang ada di pelupuk mata (hati) ku

di pagi yang aneh ini

"nggak apa-apa ukht, semua orang pernah berbuat salah kok..."

"ampunan Allah itu maha luas, sayang. kita jangan sekali-kali meragukan itu..."

"bukan tentang kesalahanmu, yang kami tahu adalah kamu ingin berubah. itu sudah lebih dari cukup..."

"kamu percaya kan, bahwa keindahan ukhuwah itu bukan hanya di negeri dongeng?"

dan masih banyak lagi kata-kata sejenis itu. kata-kata yang selayaknya kita ucapkan pada mereka yang tengah berada di penghujung kebimbangannya. di saat mereka merasa bahwa kesalahan yang mereka lakukan merupakan akhir dari hidup mereka. mereka tengah berada di atas pijakan yang sebentar lagi akan rubuh! jika kita tidak mengulurkan tangan kita untuk digenggamnya, mungkin sebentar lagi mereka akan jatuh ke sebuah jurang bernama putus asa dari rahmat Allah.

jangan hakimi mereka atas kesalahan itu! itu akan membuat mereka semakin merasa tidak berharga. bisa jadi mereka pikir, karena sudah tercebur, mending tenggelam sekalian. toh sudah tidak ada lagi yang peduli. jangan, kawan. jangan sampai orang-orang berpikir bahwa sudah tidak ada lagi muslim yang peduli akan apa yang terjadi pada saudaranya!

sebuah senyum, sapaan ringan, jabatan tangan, bertanya kabar. hal-hal itu sederhana saja. tapi kita tidak pernah tahu, bahwa ternyata saudara yang tadi kita sapa dan kita salami itu sedang berada di puncak keputus asaannya. dan melalui senyum hangat yang kita berikan tidak lebih dari dua detik saat berpapasan tadi, dia merasa bahwa dirinya tidak lagi sendirian, tidak lagi diabaikan.

itu saja, saudaraku. semoga kita tidak termasuk orang yang mendzalimi hak mereka untuk dirangkul dalam kehangatan persaudaraan.

(tiba-tiba saja ingin menulis hal ini. di pagi yang aneh, tapi penuh barakah, ini)